Pertama-tama saya ingin mohon maaf jika tulisan saya ini menyinggung para pembaca, namun sungguh saya tidak berniat untuk menyinggung atau menyudutkan salah satu suku bangsa, karena perbedaan suku itu bagi saya hanyalah perbedaan fisik yang tidak ada artinya karena pada dasarnya kita semua sama, sama-sama manusia, sama-sama mahluk yang diciptakan oleh TUHAN.
Ok, begini ceritanya, hari minggu kemaren kebetulan saya ketemu dengan seorang teman dekat saya yang keturunan tionghoa. Kebetulan tahun pernikahan kami sama, yaitu tahun 2002, dan saya saat ini sudah memiliki dua orang anak sedangkan dia baru memiliki seorang anak. Saya bertanya, "Wah... kapan nih sih Andry akan punya adik.... buruan dong dikasih adik tuh si Andry....". Lalu dia menjawab, "Wah... lagi banyak mikir masalah ekomnomi nih.... sebenarnya sih kalau masalah kebutuhan keseharian itu tidak menjadi masalah yang besar, tapi saat ini biaya pendidikannya yang mahal". lalu dia menceritakan adiknya yang tinggal di bandung yang tahun lalu memasukan anaknya ke TK aja butuh biaya masuk sekitar 7 juta rupiah, lalu saudara istrinya yang memasukkan anaknya ke SD harus menanggung biaya sebesar 10 juta.
"Wih..... TK apa itu.... dan SD apa itu sampai keluar biaya sebesar itu?" dengan terkejut tentu saja aku bertanya, karena saat aku memasukkan anakku yang pertama ke SD, tidak dikenakan biaya masuk, bahkan SPP pun sudah tidak ada sekarang.
Lalu temanku tadi menjawab dengan menyebutkan sebuah yayasan TK dan SD yang memang sudah sangat terkenal dan Favorit.
"Ouwh.... lha masuk di sekolah seperti itu yah... tentu saja mahal....." jawabku... "kemaren anakku masuk SD tidak dipungut biaya..." waktu masuk TK hanya kena biaya 750ribu.... itupun bisa dibayar cicil dua kali....... coba deh masukin aja ke SD Negeri"
"Wah tapi kualitasnya gimana ?" tanya dia "Ya ampun.... SD Negeri yang favorit juga banyak kok...." jawab aku
"Ah... tapi kalau untuk kaumku ya gak bisa....."
"Kaum-mu gimana....?"
"Kan sekolah Negeri itu mengutamakan yang golongan pribumi.... golonganku pasti dinomorduakan.."
"Ya ampun kamu masih saja berpikir seperti itu... memang apa bedanya sih golongan -mu dan golongan-ku..... banyak kok teman sekolah anakku yang golongan tionghoa.."
Lalu pembicaraan terputus karena acara di gereja sudah segera dimulai...
Aku berpikir, seharusnya sudah tidak ada lagi pikiran-pikiran seperti itu, pikiran yang masih membedakan aku keturunan jawa, dia keturunan cina, orang itu keturunan bule, tetanggaku keturunan arab....... ah... bukankah kita semua diciptakan pada hakekatnya adalah sama? hanya perilaku kitalah yang sebenarnya membedakan kita, namun pada hakekatnya kita semua sama dihadapan Tuhan. Semoga pikiran-pikiran seperti temanku tadi tidak terus membudaya pada generasi penerus. Andaikan apa yang dikatakan temanku benar bahwa ada sekolah yang mengkotak-kotak penerimaan siswanya berdasarkan suku.... semoga pemerintah segera menindaknya, sehingga setiap anak apapun sukunya apapun bangsanya tetap dapat menerima hak yang sama dalam hal pendidikan. SEMOGA....