Showing posts with label mayat. Show all posts
Showing posts with label mayat. Show all posts

Friday, April 24, 2009

Salah Persepsi

Aku sudah lupa tepatnya.. kapan dan dimana aku baca kisah ini, sewaktu ngelamun sore ini jadi ingat kisah konyol ini, langsung aja ceritanya:


Alkisah ada dua orang pemuda sukarelawan pada sebuah bencana, dua pemuda itu bernama si Bolot dan si Kolot.

Hari itu mereka kebagian tugas untuk mengevakuasi mayat-mayat korban bencana.

Pagi itu mereka mulai melaksanakan tugasnya dengan mengangkut beberapa mayat dengan tandu yang mereka dapatkan dari posko bencana.

Pada dasarnya si Bolot sudah ogah-ogahan melaksanakan tugas mereka pagi itu, karena sebenarnya ia adalah tipe orang yang takut dengan mayat, sedangkan si Kolot adalah orang yang tidak jelas lafal katanya sehingga sulit dimengerti ketika ia sedang berbicara.

Jadi mereka bekerja dalam kesunyian pikiran mereka masing masing tanpa berbicara sepatah katapun.

Suatu saat ketika mereka sedang mengangkut mayat seorang korban dengan posisi Bolot di depan dan si Kolot dibelakang, mendung mulai menyelimuti bumi.

Tiba-tiba suara si kolot bergumam memecah kesunyian dengan bahasa jawanya yang kental "Wah Blaik...... mendung lot!!!"

Namun si Bolot tidak menyahut dengan sepatah katapun, kecuali keringatnya yang semakin deras mengucur dan ditambah tubuhnya yang sedikit bergemetaran.

Si Kolot yang terheran-heran dengan reaksi siBolot hanya diam tak memberi komentar apapun atas reaksi dari si kolot itu tadi.

Sebentar kemudian gerimis mulai turun, dan si kolot bergumam lagi "Wadhuh..... mulai gerimis Lot.. piye jal...!!!!"

Dan sekarang si Kolot tambah heran ketika tiada renspon jawaban apapun dari Bolot selain tubuhnya yang tambah gemetaran dan langkah yang di percepat, namun Kolot tetap tak berkomentar, karena dia mengira bolot mempercepat langkahnya karena gerimis.

Namun tiba-tiba gerimis menjadi Deras sekali dan si Kolot kembali berkata "Wah blaik Lot.... mandeg Lot mandeg..... ngeyup dhisik"("..........Berhenti Lot berhenti neduh dulu)

Disinilah si Kolot benar-benar kebingungan tak tau apa yang harus dilakukan karena si Bolot bukannya berhenti dan berteduh tapi malah melepaskan tandu mayat dan lari sekencang kencangnya tanpa menoleh kebelakang.

Si Kolot yang kebingungan akhirnya tidak jadi berteduh tapi meneruskan pekerjaannya seorang diri, dengan susah payah dia menyeret mayat tersebut ke tempat evakuasi korban.

Setelah itu, usut punya usut ternyata kejadian itu terjadi akibat salah komunikasi diantara mereka. Saat si Kolot bergumam "Wah blaik mendung Lot" maka si Bolot mengira si Kolot sedang berkata "wah blaik, mlendung lot" (menggelembung) si Bolot mengira bahwa si Kolot melihat mayat yang sedang mereka usung itu menggelembung.

Lalu pada saat si Kolot berkata "Wadhuh mulai gerimis.... piye jal " si Bolot mengira "Wadhuh mulai meringis .. gimana nih"

Lalu lebih parah lagi saat si Bolot berkata dengan keras "Wah blaik Lot.... mandeg Lot mandeg.... " si Bolot mengira bahwa si Kolot berkata" Wah blaik lot.... ngadeg lot ngadeg........"(berdiri) si Bolot mengira bahwa si Kolot melihat mayat yang mereka usung itu berdiri makanya si Bolot lari pontang panting karena ketakutan....

Sunday, March 29, 2009

Bau Busuk mulai tercium di Area Situ Gintung

Seperti biasa, hari ini masih memantau beriata yang ditayangkan TV tentang perkembangan Situ Gintung. Berita terakhir yang terdengar adalah korban tewas yang ditemukan sudah mencapai 99 orang, mungkin saat ini sudah lebih.
Dan yang lebih menarik perhatian lagi adalah adanya bau busuk yang sudah mulai tercium di daerah luapan air.
Bau-bau busuk itu berasal dari dalam tumpukan-tumpukan kayu maupun beton yang hancur akibat banjir bandang yang melanda daerah cirendeu jum'at kemarin.
Ya memang sudah sewajarnya jika bau-bau busuk sudah mulai tercium karena mayat-mayat entah manusia ataupun binatang yang mati telah mulai membusuk karena sudah tiga hari. Yang jelas sampai saat ini suasana daerah bencana masih sangat kacau-balau, sementara tim sar, anggota TNI-POLRI dan beberapa masyarakat masih terus melakukan pencarian korban dibalik puing-puing reruntuhan bangunan maupun dengan mengaduk-aduk lumpur sungai. Sementara itu untuk mempermudah pencarian, mereka mulai mengerahkan sejumlah anjing pelacak untuk membantu mereka dalam melakukan pencarian korban.