Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Thursday, July 2, 2009

Cinta tak berbatas Alam

Angin malam berdesir pelan berhembus diantara sela-sela dedaunan bambu, menerbangkan beberapa helai daunnya yang kering. Dalam keremangan malam itu sesosok bayangan berjalan tergopoh-gopoh menyeruak rerimbunan semak, melompat diantara perdu yang telah basah oleh embun malam. Dari jauh terlihat sebuah pondok kayu, cahaya pelita yang remang menyelinap keluar dari celah-celah dinding kayu yang longgar. Sosok bayangan tadi bergerak mendekati pondok kayu yang sederhana itu seperti hendak mencari penghuni pondok tersebut.

“Tek…tek…tek….!!” Lelaki tersebut mengetok pintu pondok tersebut dengan keras

“Bi Sarip…… “ panggil lelaki itu

‘Krieeeeewwwwtttt………..’ tampak pintu tersebut terbuka dan seorang wanita setengah baya muncul dari dalam pondok.

“Ada apa nak……?” Tanya wanita tersebut

“Tolong bi… istri saya hendak melahirkan..” jawab pria itu

Dalam temaramnya pelita kecil yang tergantung di dinding kayu pondoknya bi Sarip dapat melihat sesosok pria Tegap tinggi besar dan berambut cepak, ia mengenakan kaos yang ketat sehingga lekuk-lekuk otot kekarnya jelas terlihat.

“Maaf kamu siapa yah nak… kok saya tidak pernah melihat kamu di desa ini..dan kamu kok kenal nama bibi?” Tanya bi Sarip penasaran

“Oh… saya Purnomo bi…. Rumah saya di desa tetangga….” Sahut lelaki tadi

“Saya kesini hendak minta tolong bi… istri saya hendak melahirkan, saya dengar bi Sarip biasa menolong orang yang melahirkan…..” lanjut lelaki itu dengan sopan.

Sebenarnya bi Sarip sudah merasa kecapekan malam itu, seharian membantu tetangganya yang sedang memanen sawahnya. Selain menjadi dukun bayi yang menolong orang-orang desa melahirkan, kehidupan keseharian bi Sarip diisi dengan menjadi buruh harian orang-orang desa yang mengerjakan sawahnya ataupun memanen hasil sawah maupun ladang mereka.

“Iya nak…. Meski sebenarnya bibi capek sekali malam ini, namun inilah kesempatan bibi untuk menolong orang-orang disekitar bibi..” sahut bi Sarip

“Tunggu sebentar ya…. Biar bibi ganti baju dan bersiap diri……”lanjut bi Sarip

“terima kasih bi….” Sahut lelaki itu.

Sementara itu malam kian larut dan suara-suara malam kian jelas dan ramai terdengar, dedaunan membiaskan cahaya rembulan yang temaram, memantulkan cahaya-cahaya magis yang siap membius siapa saja yang memandangnya untuk larut dalam dunia gaib tanpa batas. Dan juga bayang-bayang pepohonan yang rimbun tampak seperti mahluk-mahluk raksasa yang mengawasi jalannya kehidupan malam yang damai.

“Cepat yah bi….. istri saya suadah menunggu…..” seru lelaki itu sopan

“Iya…iya… ini bibi masih menyiapkan peralatan buat persalinan nanti biar lancar” jawab bi Sarip

“Iya bi… saya tahu bibi sudah terbiasa menangani persalinan, terima kasih sebelumnya ya bi…” sambung lelaki itu.

“Iya…… ayo bibi udah siap nih” tampak bi sarip keluar dari dalam sambil membawa buntelan kain yang tampaknya berisi alat-alat dia untuk menolong seseorang yang sedang melahirkan.

“Ayo bi……..” sahut lelaki itu sambil berjalan keluar pondok

Sekilas sebelum keluar dari pondoknya, bi Sarip melirik jam dinding usang yang tergantung di dinding pondoknya menunjukkan jam setengah sebelas malam.

‘ngrieeeet…… krek….cekrek…cekrek…!!’ terdengar suara pintu papan yang ditutup dan dikunci rapat oleh bi Sarip.

“Lewat sini bi……..” lelaki itu tampak menunjukkan jalan kepada bi Sarip

Tanpa banyak Tanya bi Sarip mengikuti lelaki itu berjalan di belakangnya berjalan tertatih-tatih di kegelapan malam diantara rerimbunan semak di bawah rimbunnya batang-batang bambu petung yang menjulang tinggi kelangit seakan hendak menancapkan cakar-cakarnya di langit.

Sambil sesekali merapikan kerudungnya bi Sarip berjalan tertatih-tatih mengikuti lelaki itu, senyapnya malam suara binatang malam yang mencekam seakan mengelilingi perjalanan mereka berdua.

“Nak… tunggu sebentar nak…….” Tiba-tiba bi Sarip berhenti dengan napas yang tersengal dan keringat bercucuran di dahinya, tampak dibawah keremangan cahaya bulan wajah setengah baya yang sudah mulai dihiasi keriput itu sangat kelelahan.

“Tapi bi… istri saya sudah menunggu…..” sahut lelaki itu

“Iya… bibi tau… tapi bibi lelah sekali nak….”jawab bi Sarip

“Oh… bi Sarip lelah ya…. Maaf bi… sampai-sampai saya tidak memperhatikan bibi yang kelelahan.. bodohnya saya hanya memikirkan diri saya sendiri… maaf yah bi….” Kata lelaki itu sambil mendekati bi Sarip.

“Iya.. iya.. bibi mau istirahat dulu sebentar……”

“Memangnya di desa mana tempat tinggalmu nak?”Tanya bi Sarip

“Desa SambungRaja bi…..”jawab lelaki itu

“Hah…. Itu kan jauh sekali nak..” sahut bi Sarip kaget

“Siang hari saja bi Sarip pernah kesana dengan jalan kaki selama tiga jam baru nyampai… nah ini malam hari nak… mungkin kita nyamoai disana pagi hari” sambung bi Sarip

Lelaki itu tertegun, dia berdiri mematung tanpa sepatah katapun seperti sedang memikirkan apa yang akan terjadi dengan istrinya jika baru pagi hari mereka sampai, apakah sempat menolong istrinya melahirkan. Lalu ia mendongak ke atas melihat kearah bulan yang hanya samar-samar terlihat karena tersaput awan, lalu tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya ke bi Sarip dan menatap lekat mata perempuan setengah baya itu dengan tajam.

“Ada…. Apa nak….” Kata bi Sarip dengan nada yang sedikit ketakutan

“Jangan takut bi……” sahut lelaki itu

“Mari kita lanjutkan perjalanan kita supaya istri saya tidak lama menunggu” kata lelaki itu sambil meraih tangan bi Sarip

“Pegang tangan saya selama dalam perjalanan ya bi…” sambung lelaki itu

Dengan keheranan bi Sarip hanya menuruti apa yang dikatakan lelaki itu, saat tangan lelaki itu menyentuh telapak tangannya hawa dingin tiba-tiba merasuk melalui telapak tangannya, namun dingin itu bukan dingin yang menggigilkan raga, namun sebuah hawa dingin yang aneh yang seakan melarutkan segala kelelahan dan melenyapkan segala nyeri di tubuh bi sarip, dan bi Sarip merasakan kenyamanan yang luar biasa. Bersamaan dengan itu bi sarip melihat sekeliling, dan dia merasa seolah waktu berhenti berputar, suara-suara malam tadi yang mencekam yang kadang membuat bulu kuduknya berdiri seakan lenyap tak tau entah kemana, angin juga seakan berhenti berhembus sehingga ujung-unjung daun pepohanan yang tadinya bergoyang-goyang diterpa angin, kini diam sama sekali tak bergerak.

Lalu merekapun mulai bergerak dan kaki bi sarip terasa sangat ringan dan lincah bergerak diantara semak dan perdu yang menghalangi jalan mereka, menyeruak didalam heningnya malam yang seakan terhenti saat itu. Perjalanan menyusuri bukit menembus lembah melompati parit-parit kecil meniti pematang sawah, semua mereka lalui dengan mudah dan tak ada rasa lelah di kaki-kaki bi Sarip yang sudah mulai menua itu

Akhirnya mereka tiba disebuah pondok sederhana namun rapid an cantik, yang diterangi dengan sebuah lampu neon putih di terasnya.

“Ini rumah kami bi… istri saya sudah menunggu di dalam” ujar lelaki itu ramah selaku tuan rumah sambil membukakan pintu.

Saat bi Sarip hendak melangkah masuk, tiba-tiba lelaki itu memegang tangannya

“Tunggu sebentar bi….. saya menunggu diluar rumah saja air panas dan beberapa peralatan yang bibi butuhkan sudah saya siapkan di dapur, ini ada sekedar tanda terima kasih untuk bibi, istri saya ada di kamar itu” kata lelaki itu sambil menyerahkan sebuah amplop coklat tertutup rapat dan menunjukkan sebuah ruangan di dalam rumah itu.

Meskipun heran, bi Sarip menerima amplop itu dan memasukkannya di dalam buntelan kain yang dibawanya tadi. Dengan segera dia menuju sebuah kamar yang ditunjukkan lelaki itu. Ketika dia masuk ke kamar itu, tampaklah seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun terlentang di atas tempat tidur dengan perut yang telah membuncit karena kandungannya yang sudah berusia sembilan bulan beberapa hari.

“Aduuuh……. Aaahhhh……” terdengar perempuan itu merintih kesakitan

Bi sarip segera mendekati perempuan itu dan memeriksanya, perempuan itu tampak kaget namun tak mampu bertanya lagi akibat rasa sakit yang sudah sangat menyiksanya.

“Siapa namamu nak……” Tanya bi Sarip

“Yuli bu…….” Jawabperempuan itu

“Iya… kamu sudah akan melahirkan malam ini bibi akan menolongmu…. Tenang saja.. jangan takut, kamu bisa kok…. Ini anak pertama kamu yah…?” lanjut bi Sarip

“Iya bi…… aaaaahhhh…..arggghhhh…. uhhhh…!!!!” jawab perempuan itu sambil terus mengerang kesakitan.

Dengan sigap bi Sarip menolong Yuli melahirkan, dari kesigapannya tampak bahwa bi Sarip adalah seorang yang sangat berpengalaman dalam menolong orang yang melahirkan.

“Oeeeeek…… Oeeekkk………..Oeeeeeekkkkk !!!” tiba-tiba terdengar suara bayi memecah keheningan malam itu, bayi laki-laki yang sehat telah lahir dari rahim perempuan yang bernama Yuli itu dengan pertolongan bi Sarip. Setelah membersihkan bayi itu bi Sarip membungkus bayi itu dengan kain gedong dan meletakkannya disamping Yuli. Setelah selesai membereskan dan membersihkan smua peralatan yang ia gunakan, bi Sarip duduk di samping tempat tidur Yuli sambil member beberapa nasihat bagaimana merawat bayi yang baru lahir.

“Bi…. Darimana bibi tau kalau saya mau melahirkan malam ini…..?”Tanya Yuli tiba-tiba.

“Suamimu yang memberitahu bibi, dia susah payah berjalan jauh untuk memberitahu bibi” jawab bi Sarip

“Su…. Suami…. Sa… saya… bi…. Mas Purnomo… orangnya tinggi, tegap kekar… rambutnya cepak?” sahut Yuli

“Iya nak… dia…..Oh.. iya… dia kan menunggu diluar… bibi sampai lupa memberitahu dia kalau anak kalian sudah lahir” kata bi Sarip sambil dengan cepat berjalan keluar rumah sambil memanggil lelaki itu “Nak… nak pur… anakmu sudah lahir… laki-laki nak Pur… sehat… ganteng lagi..”

Namun di luar bi Sarip tidak menemukan siapa-siapa, hanya desir angin yang berhembus pelan dan suara jengkerik yang sahut-sahutan dan sesekali terdengar suara gongongan anjing nun jauh disana. Bi Sarip lalu mengelilingi rumah itu barangkali Purnomo sedang berada di belakan rumah atau disuatu tempat di sekitar rumah itu, namun bi Sarip tak juga menemukannya. Iapun segera masuk kedalam rumah, dan di kamar Yuli dia menemukan Yuli sedang mengeluarkan air mata, menangis tersedu.

Dengan keheranan bi sarip berkata “Ada apa nak…. Kenapa kamu menangis… kok bi Sarip tidak menemukan suamimu di luar.. kira-kira kemana yah dia?”

“Bi….. Mas Pur…” sahut Yuli namun kata-katanya terhenti oleh sedu tangisnya

“Kenapa nak…” sahut bi Sarip penasaran

“Sebenarnya……” sambung Yuli

“Sebenarnya…. Mas Pur…. su…..dah me…..ninggal sebulan yang lalu” lanjut Yuli diiringi pecah tangisnya yang kian tersedu

“Astaga………….. jadi lelaki itu tadi…….”gumam bi Sarip sambil menengok kea rah jam dinding, dan dia semakin terkejut saat melihat jam dinding masih menunjukkan jam dua belas kurang seperempat malam. Jika sekitar satu jam dia menolong Yuli melahirkan, berarti dia sampai dirumah ini sekitar jam sebelas kurang seperempat, jadi dia melakukan perjalanan dari rumahnya menuju rumah Yuli hanya memakan waktu lima belas menit, padahal jarak tersebut biasanya ditempuh tiga jam dengan berjalan kaki di siang hari.

“Jadi… suamimu… sudah meninggal satu bulan yang lalu?” Tanya bi Sarip untuk meyakinkan diri

“Iya bi… dan tadi saat perut saya sakit sekali dan merasa bahwa saya akan melahirkan saya sudah pasrah.. saya tidak tahu lagi harus berbuat apa karena untuk bengun dari tempat tidur saja saya tidak bisa dan saya hanya bisa pasrah saat itu” jawab Yuli dengan sesekali masih terisak.

Bi Sarip mengeryitkan dahinya yang mulai keriput saaat mengingat bahwa Purnomo memberikan sebuah amplop sebelum dia menolong Yuli melahirkan. Dengan tangan bergetar bi Sarip mengambil amplop coklat itu namun amplop itu tidak ada, yang ada hanya sebuah daun jati berwarna coklat yang dilipat rapi, perlahan bi Sarip membuka daun jati coklat yang sudah kering itu, suara daun jati kering yang dibuka dari lipatannya terdengar memecah keheningan ruangan itu dan tampaklah sebuah cincin emas berhiaskan batu bening berwarna biru di dalamnya.

“Saat Purnomo mempersilahkan bibi masuk kerumah tadi, Purnomo menyerahkan ini di dalam amplop coklat, namun amplop itu telah berubah menjadi daun jati” ujar bi Sarip

“Cincin itu memang milik mas Pur bi… pesannya yang terakhir sebelum dia meninggal karena sakit adalah meminta supaya cincin itu dipakaikan pada jarinya saat ia dimakamkan” lanjut Yuli

Malam itu keduanya larut dalam cerita-cerita tentang Purnomo dan kejadian aneh yang dialami mereka terutama bi Sarip. Kadang Yuli tersenyum dan tertawa saat menceritakan masa-masa indahnya dengan Purnomo dan kadang dia menangis saat mengingat bahwa suami yang sangat dicintainya telah meninggalkannya, namun dia bersyukur karena meskipun alam mereka telah berbeda, Purnomo masih bisa melindunginya dengan caranya sendiri, sementara malam telah beranjak menjadi pagi, dan sang surya telah kembali merengkuh bumi dengan cahayanya yang mulai semburat di ufuk timur.

Saturday, June 27, 2009

KENAPA BARU SEKARANG...?

Dion senyam-senyum sendiri saat dia duduk dibawah pohon jambu didepan kelasnya saat tiba-tiba

“Woooi…….. lagi ngapaiin senyam senyum sendiri kayak orang lagi kesambet!!” seru Dodo ketika melihat sahabatnya yang satu itu sedang senyam-senyum sendiri.

“Ah.. mau tau aja kamu… wek!!” sahut dion

“Eh… ni orang bener-bener kesambet kali yah ama penunggu pohon jambu ini” lanjut dodo sambil berlagak mencari sesuatu keatas pohon jambu saat tiba-tiba Yudi nongol

“Eh Do… kamu belom tau yah….. ah ketinggalan kamu”

“Apaan sih Yud…”tangkis Dion sambil mendelik

“Halaaaah…. Kamu lagi seneng kan dengar gossip itu?” tukas Yudi

“Seneng apaan…. Kamu gossip aja didengerin….” Sahut Dion

“Halah gak usah pura-pura… nanti malah digaet orang lho….”sambung Yudi

“Eh… eh…. Apaan sih.. gak ngerti aku, gossip….. pura-pura… digaet orang……??” sahut Dodo penasaran

“itu tuh… si Dion lagi seneng, ternyata cintanya gak bertepuk sebelah tangan…. Si Widya anak kelas 3b ternyata gossipnya juga suka tuh ama Dion..” jelas Yudi

“Upps….. Widya…. Anak 3b… yg wuhuuiiii itu……..” sahut dodo sambil melongo

“wah… gile kamu dion… jangan tolak kesempatan ini, hajar terusss… langsung tembak aja dia… kalo udah ada lampu ijo gitu..!!” lanjut Dodo serius

“Yaaah… gimana ya…. Aku gak pede tuh buat nembak dia…. Tau sendiri kan……?” sahut Dion dengan wajah murung. Selama ini memang Dion naksir berat dengan cewek kelas sebelah itu, dan Widya cewek 3b itu adalah salah satu cewek idola di SMP Kanisius ini yang tentusaja banyak sekali penggemarnya,dan tentu saja bayak pula pesaing Dion yang notabene cowok-cowok keren di sekolah ini. Sedangkan Dion, dia cukup tau diri bahwa dia hanya cowok biasa, bahkan berangkat sekolahpun Dion hanya naik sepeda tuanya yang berwarna kuning emas namun udah karatan disana-sini. Namun gossip yang Dion dengar kali ini benar-benar sebuah angin segar baginya meskipun dalam hati kecilnya tetap mengatakan bahwa ia bukanlah apa-apa.

++++++++++++++++

Seperti biasa tiap pagi sebelum masuk kelas, Dion duduk dibawah pohon jambu didepan kelasnya sambil membaca-baca buku catatan pelajarannya, tampaknya beginilah cara Dion untuk belajar sebelum kelas dimulai. Dan pagi itu saat Dion tengah asyik dengan buku catatannya

“Pagi Dion…..” sebuah suara yang lembut nan merdu membuat seluruh bulu kuduk Dion berdiri, dan aliran darahnya serasa berhenti meskipun Jantungnya berdegup kencang

“suara itu… kan .. suara Widya…?” seru Dion dalam hati.

Sejenak Dion berhenti membaca dan mencari asal suara tadi, ternyata benar si Widya yang sedang berjalan menuju kelasnya sambil memandang Dion, sejenak mata mereka beradu pandang, serasa ada sebuah panah yang menghunjam di hati Dion tatkala ia melihat mata indah itu,

”Mata itu…. ah… indahnya mata itu…. ah… cantiknya kamu Widya…” gumam Dion dalam hatinya namun dia tak mampu berkata-kata ditelan oleh kekgumannya pada sang Widya yang tampaknya sudah begitu dalam bersemayam di dalam hatinya

“Inikan cinta?.... inikah cinta pertamaku?” pertanyaan itu selalu hinggap di dalam hati Dion yang paling dalam.

“Ehm…ehm…….. wah… wah… yang lagi Jatuh cinta…” tiba-tiba Dodo sudah berada di dekat Dion dan rupanya memperhatikan kejadian tadi.

“Eh kamu Do…. Gak lihat kamu datang…” sahut Dion

“Habisnya…. Kamu lagi asyik… pandang-pandangan sama sang bidadari….cihuiii….suit-suit……” ledek Dodo

“Ah.. kamu bisa aja Do….”

“Eh omong-omong gimana nih……”

“Gimana apa…….!!”

“Itu….. kamu sama Widya…”

“Hhhhhh…….. itulah Do…. “ Dion menghela napas dalam dan meneruskan bicara

“Terus terang aja aku naksir berat ama si Widya…. Tapi….. mhhhh”ucap Dion sambil menghela nafas

“Tapi apa…. tapi kamu miskin… tapi kamu cuman naik sepeda…. Tapi kamu malu nembak dia….ahhh… jangan gitu dong, masa kalah sebelum berperang” sahut Dodo

“Ya… gak kalah gimana Do…. Jelas-jelas kalo berperang itu harus punya senjata…. Lha ini aku gak punya senjata sama sekali…. Apa yang mau aku jadiin senjata?” tukas Dion

“Eh.. sebentar… sebenarnya kamu pernah ngomong gak sih ama dia ….” Tanya yudi yang tiba-tiba saja nimbrung.

“Ya… belum pernah.. cuman sekedar naksir berat aja sih….” Jawab Dion

“Yaaaahhh……………… kamu….” Sahut Dodo

“kalo gak pengin didului orang…. Langsung ngomong… Okey…” saran Yudi

“Okelah… nanti aku coba “ jawab Dion sambil garuk-garuk kepala.

+++++++++++++++++++

Hari itu adalah hari terakhir mereka di sekolah, setelah pengumuman kelulusan dan segala macam acara setelah kelulusan.

Dion termangu saat kakinya melangkah meninggalkan gerbang SMP tempat dia dan teman-temannya menimba ilmu selama tiga tahun terakhir.

“Met jalan Do, Yud……” ucap Dion sambil menjabat tangan Dodo dan Yudi secara bergantian. Sesaat lagi mereka akan berpisah menempuh jalan hidup masing –masing di sekolah yang berbeda, Yudi akan ke sekolah farmasi, Dodo ke SMK perkayuan dan Dion sendiri akan masuk ke SMK Elektro Komunikasi.

Sesaat Dion memandang gedung tua SMP Kanisius yang kabarnya sudah ada sejak jaman Belanda itu, “Ah gedung yang penuh kenangan, penuh kejadian yang luar biasa selama tiga tahun ini” gumam Dion sementara angin semilir menerbangkan daun-daun yang rontok dari pohon-pohon akasia yang tumbuh rimbun didepan sekolah itu.

Sesaat kemudia Dion membalikkan badannya untuk melangkah pulang karena hari itu memang dia tidak membawa sepeda kesayangannya, saat itulah dia melihat Widya memasuki sebuah mobil Kijang abu-abu yang ternyata adalah mobil ayahnya, ingin rasanya Dion berteriak memanggil namun tenggorokannya serasa tercekat dan tidak mampu untuk mengeluarkan sepatah katapun meskipun Dion menyadari bahwa ini adalah kesempatannya yang terakhir untuk berbicara dengan Widya.

Namun setelah berjuang untuk dapat berteriak, Dion hanya dapat bergumam

“Selamat berpisah Widya, semoga kita bisa bertemu kembali……. Entah kapan” setelah itu Dion hanya bisa melihat mobil itu bergerak pergi dan sekilas dia melihat Widya dari balik kaca mobil melambaikan tangannya.

+++++++

Malam itu Dion sedang dilanda kebosanan didepan Komputernya, blogwalking ke beberapa blog sudah dilakkukannya, membuka Yahoo messenger tidak ada teman yang online untuk diajak ngobrol. Ditengah kebosanannya dia membuka facebook untuk sekedar melihat lihat apa yang baru dari teman-teman facebooknya, atau mungkin bisa berkomentar ngawur di foto-foto teman-temannya, sampai tiba-tiba dia terhenti saat melihat foto-foto dari friend List seorang temannya.

“Apa aku nggak salah lihat…….?” Dion mendekatkan wajahnya ke monitor sambil mengucek matanya yang sedikit merah karena terlalu lama di depan komputer. Di layar komputer dia melihat sebuah foto kecil bernama Widya, dan wajah itu meskipun sudah sekitar enam belas tahun tidak bertemu, Dion masih yakin bahwa itu adalah Widya sang pujaan hatinya semasa SMP. Tanpa ragu-ragu Dion segera memencet tombol “Add as Friend” sambil berharap bahwa itu benar-benar Widya, bukan untuk mengulang atau berjuang untuk mendapatkan kembali cintanya yang dulu, namun hanya untuk mengetahui bagaimana keadaan Widya saat ini karena saat ini dia sudah berkeluarga dan tampak sedang menggendong anaknya di foto tersebut, sedangkan Dion sendiri juga telah berkeluarga.

++++++

“Tuliiit…….” Hp Dion berteriak saat dia sedang dengan serius mengerjakan beberapa laporan pekerjaannya di kantor. Dengan sedikit enggan Dion melihat HPnya “Ah… siap lagi sih yang SMS….” Sejenak kemudian Dion melihat HPnya, ternyata E-mail yang masuk dari Facebook dan mengatakan “Widya Accepted you as friend on facebook”

“Wah…. Facebook, wah Widya…” Dion jadi salah tingkah siang itu di kantornya, ingin rasanya dia segera membuka facebooknya dan melihatnya, namun peraturan yang keras di kantor membuatnya mengurungkan niat dan bersabar sampai pulang.

Jam dinding di tembok ruang tengah menunjukkan pukul 10 malam saat Dion menghidupkan komputernya, dan setelah konek dengan internet Dion segera membuka facebooknya, dan segera dia melihat seseorang yang barusaja meng “Acceptnya as friend “ tadi siang, yah benar itu memang Widya yang dulu, Widya teman SMP Dion dan dia sudah berkeluarga sekarang, sudah memiliki dua orang anak.

Lalu tiba-tiba dion memencet tombol Chat, dan ternyata Widya juga sedang online malam itu.

“Met malam Widya…..” dion memulai percakapan chatting.

“Met malam… Dion”balas Widya dari seberang sana

“Gimana kabar kamu…..?” sambung Dion

“Baik… kamu?”

Dan seterusnya, malam itu mereka asyik chatting, namun sudah dalam situasi yang lain daripada enambelas tahun yang lalu, Dion sudah berkeluarga Widyapun juga.

Dalam hati Dion berkata “Akhirnya aku berkesempatan ngobrol dengan kamu Wid…. Tapi kenapa baru sekarang……..?”

Thursday, June 18, 2009

25 Minutes too late

Setelah pusing mikirin keyword Rusli Zainal Sang Visioner, akhirnya malah nemu sebuah ide cerita yang "Based on True Story ini"(tapi tentu sudah dibumbui bumbu penyedap disana sini) namun harap maklum cara menulisku masih gak karuan, tidak seperti Mbak Fanny yang udah berpengalaman nulis cerpen, yah daripada pusing mikirin Rusli Zainal Sang Visioner, mending cerita aja yah.....
*************************************************************************************

"After sometimes, I finally made up my mind... she is the girl, that I really want to make her mine....."
Sebuah lagu yang dinyanyikan Michael Learns to Rock mengalun dari tape mobil kami saat kami meluncur dijalan keluar dari kota semarang, sementara senja telah beranjak berganti malam.
"Mau aku gantiin nyetir An..." tanyaku pada Andi saat aku lihat berkali kali ia seperti melamun, sehingga sering kali ia menginjak rem secara tiba-tiba.
"Gak usah Tri... nanti aja" jawab Andi, sementara aku hanya bisa manggut-manggut sambil memonyongkan bibirku, karena aku tahu bahwa sahabatku yang satu ini baru saja dihantam sebuah kejadian yang sangat menyesakkan dada.

*******************************************

Cerita berawal kemarin siang saat aku lihat Andi begitu ceria di kantor, semua pekerjaan diselesaikan dengan cermat dan tepat.
"Duuuh.... cerianya yang mau ketemu ama doi...." godaku sambil melempar bola kertas ke arah Andi. Dengan sigap Andi menangkap bola kertas itu dan melemparkannya ke arahku
"Iya dong... udah lama nih gak ketemu.. kangen.. kangeeen" jawabnya sementara alisnya dinaikkan sebelah.
Kami memang berencana untuk pulang ke semarang nanti malam, karena besok hari minggu dan hari seninnya adalah hari libur, jadi mumpung ada kesempatan libur, kami manfaatkan untuk pulang kampung, namun kepulangan si andi kali ini lebih dikarenakan rasa kangennya pada ceweknya yang sudah setahun lebih tidak ketemu, bahkan menurut si Andi, dua bulan terakhir dia tidak pernah telpon, tapi si Andi tidak pernah punya prasangka buruk mengenai hal itu.

***

"Cepetan cuy.... apa lagi yang kamu bawa... udah makin malam nih..!!" teriak si Andi dari luar rumah sambil membuka bagasi mobil yang akan membawa kami pulang kampung.
"Udaaah... udah gak ada lagi, semua dah masuk, tunggu bentar..... lagi setor nih...!!!" jawabku dari dalam toilet,
"Ah.. dasar penyakit lama... kalo mau bepergian setooooor melulu...!!!" sahut si Andi sambil membanting pintu bagasi.
Sesaat kemudian aku sudah berada di belakang kemudi mengemudikan mobil kami menuju ke kota semarang.
"An... kamu kok bisa yah.... gak ketemu selama setahun gitu"
"Yah sebenernya sih gak tahan juga ... tapi ya mau gimana?" sahut Andi sambil mengunyah kacang telor sehingga ada sebagian yang berhamburan keluar.
"Kalo aku sih gak bisa kayak gitu, pasti udah punya serep disini" timpalku sambil merogoh kantong kacang telor yang ternyata isinya tinggal seperempat itu.
"Emangnya ban apa..... pake serep segala...." jawab andi sambil ngikik kaya kuda lagi keselek kacang telor.

"When I need you, Just close my eyes and I'm with you......."

sesuai dengan suasana hati si Andi, perangkat musik kami mengalunkan When I need lovenya Rod Steward dengan lembut mengiringi perjalanan kami malam itu.
Semalaman kami bercanda berdua dan saling bergantian setir mobil, hingga pukul 5 pagi kami memasuki kota semarang tercinta dan langsung ngantar si Andi kerumahnya.
"An... nanti ke gereja gak...?"
"Ah.. kayaknya ntar sore aja deh... ngantuk nih, daripada tidur di gereja kan gak lucu" sahut Andi.
"Bukannya emang kebiasaan kamu tidur waktu kebaktian gereja?" jawabku sambil meninju lengan Andi.
"ah tau aja... lagian si Ervia kan biasanya ikut kebaktian sore, aku mau ngasih kejutan ke dia nanti sore, dan sengaja gak ngasi tau dia kalo aku udah di semarang"sahut Andi dengan muka berseri-seri yang dipaksa karena sudah ngantuk berat.
"Ah gila kamu, apa gak sebaiknya kamu hubungi dulu si Erviana... biar dia senang kamu datang hari ini"
"Iya... ya....... mmmmmh......Ah gak ah... kejutan tetap kejutan"kata andi sambil berlalu

***

"Klunting... klunting......." sebuah sms masuk, dengan berat aku membuka mataku dan ternyata sms dari si Andi
"aku jemput jam empat yah...." dengan malas aku melihat jarum jam yang masih menunjukkan jam 11 siang....
"Ah si Andi pasti tidak bisa tidur nih......" gumamku, lalu dengan segera aku sudah memasuki alam mimpi lagi, dimana dalam mimpiku aku bertemu dengan para putri kahyangan yang super cuantik........ dan bahennol.... ah.. ada ada saja mimpiku....
"Tulit.... tulit.... tulit....." Hpku berbunyi lagi, namun saat ini bukanlah sms, tapi si Andi menelpon.
"Tri... kamu terima smsku kan.... udah siap kan.... aku tunggu jam empat lho.... jangan telat.....!!!" Andi terus saja nyerocos di seberang sana, sehingga meski Hp kupegang jauh dari telingaku, aku tetap bisa dengar suaranya yang kaya' perkakas dapur berantakan itu.
"Iya...iya.... sabar bung... orang sabar disayang Tuhan.... terlalu sabar gak kebagian..." jawabku sambil melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore.......
Dengan sedikit berat, aku menuju kamar mandi.

"An.... kenapa sih aku kamu minta jemput jam empat, kan kebaktian mulai jam setengah enam" gerutuku sesampai di rumah Andi.
"Eh pengertian dikit dong boss..... aku kan mau nyari sesuatu dulu buat si yayank aku......" sahut Andi sambil bersungut-sungut
"Iya.. iya... mau cari apaaan...??"
"Udah.. sini aku yang nyetir... nanti kan tau sendiri.." jawab Andi sambil menarik lenganku untuk keluar dari ruang kemudi.
Sejenak kemudian kami sudah meluncur di jalan dan berhenti di depan sebuah toko perhiasan, tampaknya si Andi ingin membelikan sebuah kalung liontin pada Erviana.
Sejurus kemudian Andi sudah membayar sebuah kalung liontin berbentuk hati seharga sekian ratus ribu.

***
Tepat jam lima sore kami sudah sampai di gereja, setelah memarkir mobil, kami segera berdiri di depan pintu gerbang gereja dengan maksud menyambut kedatangan Erviana.
Satu persatu para jemaat datang, belum juga ada tanda-tanda Erviana muncul, sampai waktu menunjuk jam setengah enam sore.
"Udah yuk An... masuk aja, mungkin dia udah didalam"
Tanpa komentar, Andi langsung ngacir ke dalam gedung gereja, sedangkan aku mengikutinya dari belakang.
"Waduh An... kita kebagian dibelakang nih!!" seruku sambil celingukan kalo-kalo ada tempat yang kosong di bangku tengah, sementara si Andi celingak-celinguk mencari sang pujaan hati yang tak kunjung ketemu.
"Waduh... dimana sih si Ervia.... " bisik Andi di telingaku karena acara sudah dimulai sedangkan dia belum berhasil menemukan sang pujaan hati.
"Gak tahu... aku juga lagi nyari... kamu diem napa... jangan berisik...!!" jawabku
Sore itu Andi benar-benar tidak konsen mengikuti ibadah, matanya lirik kanan-kiri mencari sang belahan jiwanya, sampai acara hampir selesai dai juga belum berhasil menemukannya.
"Kamu sih An.. gak telpon dia dulu, mungkin dia gak datang sore ini" kataku sambil menyenggol bahu Andi.
"Gak mungkin...... aku kenal Ervia... dia paling rajin ke gereja, gak pernah absen sekaliun" sahut Andi sementara pandangannya menelusuri seluruh jemaat yang ada di ruangan itu.
Saat acara selesai, aku dan Andi terheran-heran, kenapa orang -orang ini tidak segera keluar dari ruangan?
"Bu... ada apa sih kok belum pada keluar, kan acara udah selesai..?" tanyaku dengan sedikit berbisik kepada seorang ibu disampingku.
"Lho, mas.. tadi tidak dengar yah.... dan gak baca pengumuman acara di depan? kan ada upacara pernikahan hari ini.." sahut ibu tadi.
"Oooooo " jawabku dengan bibir monyong, sementara si Andi masih tetap saja sibuk tengok kanan dan kiri.
Sejenak kemudian kebaktian pernikahan dimulai, dan setelah beberapa kotbah dari pendeta, tibalah saatnya sang pengantin memasuki ruangan.

"Teng teng tengteng..... teng teng tenteng......" lagu wedding ceremony mengiringi langkah kedua mempelai memasuki ruangan dan berdiri dihadapan sang pendeta yang akan meresmikan pernikahan mereka.
Dan "bla... bla...bla......." upacara pemberkatanpun dimulai oleh sang pendeta sampai pada akhir acara, sang pendeta menanyakan ikrar pernikahan mereka.

"Anthoni setyanto...... bersediakah anda menerima Erviana Aprilia sebagai istri anda yang sah........................................................................................................................................"

sampai disitu bibir si Andi melongo, matanya membelalak seperti hendak keluar dari kelopaknya, begitu juga dengan aku, kaget sekali aku mendengarnya
"Erviana Aprilia.... itu kan Erviananya Andi" gumamku secara tidak sadar.
Sementara itu wajah Andi terlihat begitu tegang, keringat mengucur dari dahinya, tampak dia sedang berusaha keras untuk mengendalikan diri, dan berharap bahwa yang berada di depan mimbar itu bukanlah Erviana Aprilia sang pujaan hatinya.
Pada saat pemberkatan selesai dan kedua mempelai saling berhadapan dan sang mempelai pria membuka cadar mempelai wanita, aku yang tidak ada hubungan apa-apa dengan Erviana seperti tersambar petir di senja hari apalagi si Andi.
Serta merta Andi berdiri sambil mulutnya bergumam "Ervia.............."
Saat itu pula entah mengapa Erviana juga memandang ke arah Andi, dan dia juga tampak sangat terkejut sehingga rangkaian bunga yang digenggamnya terjatuh, dan tampak bibirnya terkatup rapat menahan tangis yang tiba-tiba akan pecah.
Beberapa saat mereka saling pandang tanpa ucap sepatah katapun karena memang tidak ada lagi yang musti diucapkan saat itu, semua telah selesai, semua telah terjawab mengapa Eviana tidak pernah menghubungi Andi akhir-akhir ini.
Setelah beberapa saat saling berpandangan, dengan penuh rasa kecewa, Andi berjalan meninggalkan ruangan gereja, air mata sudah tak kuasa lagi dibendungnya darahnya menggelegak mendidih membakar seluruh jiwa raganya, perasaannya hancur.
Dengan perasaan hancur, Andi duduk di bangku taman gereja, kedua telapak tangannya terkatup rapat dimukanya saat seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun datang menghampirinya
"Mas Andi..... ini dari kak Erviana..." secarik kertas yang dilipat disodorkan kepada Andi, Andi mencoba untuk tegar dan menerima kertas itu dengan senyum yang sangat dipaksakan kepada anak perempuan tadi.
Pelan-pelan kertas itu dibukanya,

"Mas Andiku tersayang, Ervia... mohon maaf yang sebesarnya, akhirnya ervia menyerah pada keputusan papa..... Ervia sudah memberikan beribu alasan kepada papa bahwa Ervia hanya mencintai Mas Andi.... bahkan Ervia yakin kalau Mas Andi akan datang pagi tadi.. untuk meyakinkan Papa bahwa mas Andilah yang Ervia cintai..... dan memang Papa sudah menantang Ervia bahwa Ervia dilarang menghubungi Mas Andi, dan kalau cinta kita benar-benar tulus maka pagi tadi mas Andi akan datang meskipun Ervia tidak pernah telpon atau memberitahu,dan papa berjanji akan mengijinkan Ervia untuk mencintai mas Andi, Ervia selalu berdoa dan berdoa agar perasaan ini tersampaikan, namun ternyata perasaan ini memang tersampaikan tapi tidak tepat persis waktunya, sehingga Mas Andi datang disaat semua sudah terlambat........ maafkan aku Mas Andi"

Ervianamu,

"Aaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhhhhhhhhhh............................!!!!!!!!!"
Aku terkejut sekali saat mendengar andi berteriak keras sekali setelah membaca surat itu dan menghamburkan surat itu ke udara, dan akupun menangkap surat itu dan membacanya.
"Ah Andi.... seandainya kamu menuruti apa yang kusarankan pagi tadi, tentunya keadaannya akan berubah sore ini.... hhhhhhh" gumamku.

**********************************************
"Boy... I miss your kisses all the time but this is...... twenty five minutes too late........"

Twenty five minutesnya Michael Learns to Rock masih mengalun, dan terus mengalun malam itu menemani suasana hati Andi yang sedang kacau balau. Sementara jalanan menuju Jakarta sepertinya juga berduka atas suasana hati si Andi.


Based on True Story in 1998 (dengan adegan yang telah diberi warna disana sini)
Semua nama karakter bukanlah nama yang sesungguhnya.