Thursday, June 18, 2009

25 Minutes too late

Setelah pusing mikirin keyword Rusli Zainal Sang Visioner, akhirnya malah nemu sebuah ide cerita yang "Based on True Story ini"(tapi tentu sudah dibumbui bumbu penyedap disana sini) namun harap maklum cara menulisku masih gak karuan, tidak seperti Mbak Fanny yang udah berpengalaman nulis cerpen, yah daripada pusing mikirin Rusli Zainal Sang Visioner, mending cerita aja yah.....
*************************************************************************************

"After sometimes, I finally made up my mind... she is the girl, that I really want to make her mine....."
Sebuah lagu yang dinyanyikan Michael Learns to Rock mengalun dari tape mobil kami saat kami meluncur dijalan keluar dari kota semarang, sementara senja telah beranjak berganti malam.
"Mau aku gantiin nyetir An..." tanyaku pada Andi saat aku lihat berkali kali ia seperti melamun, sehingga sering kali ia menginjak rem secara tiba-tiba.
"Gak usah Tri... nanti aja" jawab Andi, sementara aku hanya bisa manggut-manggut sambil memonyongkan bibirku, karena aku tahu bahwa sahabatku yang satu ini baru saja dihantam sebuah kejadian yang sangat menyesakkan dada.

*******************************************

Cerita berawal kemarin siang saat aku lihat Andi begitu ceria di kantor, semua pekerjaan diselesaikan dengan cermat dan tepat.
"Duuuh.... cerianya yang mau ketemu ama doi...." godaku sambil melempar bola kertas ke arah Andi. Dengan sigap Andi menangkap bola kertas itu dan melemparkannya ke arahku
"Iya dong... udah lama nih gak ketemu.. kangen.. kangeeen" jawabnya sementara alisnya dinaikkan sebelah.
Kami memang berencana untuk pulang ke semarang nanti malam, karena besok hari minggu dan hari seninnya adalah hari libur, jadi mumpung ada kesempatan libur, kami manfaatkan untuk pulang kampung, namun kepulangan si andi kali ini lebih dikarenakan rasa kangennya pada ceweknya yang sudah setahun lebih tidak ketemu, bahkan menurut si Andi, dua bulan terakhir dia tidak pernah telpon, tapi si Andi tidak pernah punya prasangka buruk mengenai hal itu.

***

"Cepetan cuy.... apa lagi yang kamu bawa... udah makin malam nih..!!" teriak si Andi dari luar rumah sambil membuka bagasi mobil yang akan membawa kami pulang kampung.
"Udaaah... udah gak ada lagi, semua dah masuk, tunggu bentar..... lagi setor nih...!!!" jawabku dari dalam toilet,
"Ah.. dasar penyakit lama... kalo mau bepergian setooooor melulu...!!!" sahut si Andi sambil membanting pintu bagasi.
Sesaat kemudian aku sudah berada di belakang kemudi mengemudikan mobil kami menuju ke kota semarang.
"An... kamu kok bisa yah.... gak ketemu selama setahun gitu"
"Yah sebenernya sih gak tahan juga ... tapi ya mau gimana?" sahut Andi sambil mengunyah kacang telor sehingga ada sebagian yang berhamburan keluar.
"Kalo aku sih gak bisa kayak gitu, pasti udah punya serep disini" timpalku sambil merogoh kantong kacang telor yang ternyata isinya tinggal seperempat itu.
"Emangnya ban apa..... pake serep segala...." jawab andi sambil ngikik kaya kuda lagi keselek kacang telor.

"When I need you, Just close my eyes and I'm with you......."

sesuai dengan suasana hati si Andi, perangkat musik kami mengalunkan When I need lovenya Rod Steward dengan lembut mengiringi perjalanan kami malam itu.
Semalaman kami bercanda berdua dan saling bergantian setir mobil, hingga pukul 5 pagi kami memasuki kota semarang tercinta dan langsung ngantar si Andi kerumahnya.
"An... nanti ke gereja gak...?"
"Ah.. kayaknya ntar sore aja deh... ngantuk nih, daripada tidur di gereja kan gak lucu" sahut Andi.
"Bukannya emang kebiasaan kamu tidur waktu kebaktian gereja?" jawabku sambil meninju lengan Andi.
"ah tau aja... lagian si Ervia kan biasanya ikut kebaktian sore, aku mau ngasih kejutan ke dia nanti sore, dan sengaja gak ngasi tau dia kalo aku udah di semarang"sahut Andi dengan muka berseri-seri yang dipaksa karena sudah ngantuk berat.
"Ah gila kamu, apa gak sebaiknya kamu hubungi dulu si Erviana... biar dia senang kamu datang hari ini"
"Iya... ya....... mmmmmh......Ah gak ah... kejutan tetap kejutan"kata andi sambil berlalu

***

"Klunting... klunting......." sebuah sms masuk, dengan berat aku membuka mataku dan ternyata sms dari si Andi
"aku jemput jam empat yah...." dengan malas aku melihat jarum jam yang masih menunjukkan jam 11 siang....
"Ah si Andi pasti tidak bisa tidur nih......" gumamku, lalu dengan segera aku sudah memasuki alam mimpi lagi, dimana dalam mimpiku aku bertemu dengan para putri kahyangan yang super cuantik........ dan bahennol.... ah.. ada ada saja mimpiku....
"Tulit.... tulit.... tulit....." Hpku berbunyi lagi, namun saat ini bukanlah sms, tapi si Andi menelpon.
"Tri... kamu terima smsku kan.... udah siap kan.... aku tunggu jam empat lho.... jangan telat.....!!!" Andi terus saja nyerocos di seberang sana, sehingga meski Hp kupegang jauh dari telingaku, aku tetap bisa dengar suaranya yang kaya' perkakas dapur berantakan itu.
"Iya...iya.... sabar bung... orang sabar disayang Tuhan.... terlalu sabar gak kebagian..." jawabku sambil melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore.......
Dengan sedikit berat, aku menuju kamar mandi.

"An.... kenapa sih aku kamu minta jemput jam empat, kan kebaktian mulai jam setengah enam" gerutuku sesampai di rumah Andi.
"Eh pengertian dikit dong boss..... aku kan mau nyari sesuatu dulu buat si yayank aku......" sahut Andi sambil bersungut-sungut
"Iya.. iya... mau cari apaaan...??"
"Udah.. sini aku yang nyetir... nanti kan tau sendiri.." jawab Andi sambil menarik lenganku untuk keluar dari ruang kemudi.
Sejenak kemudian kami sudah meluncur di jalan dan berhenti di depan sebuah toko perhiasan, tampaknya si Andi ingin membelikan sebuah kalung liontin pada Erviana.
Sejurus kemudian Andi sudah membayar sebuah kalung liontin berbentuk hati seharga sekian ratus ribu.

***
Tepat jam lima sore kami sudah sampai di gereja, setelah memarkir mobil, kami segera berdiri di depan pintu gerbang gereja dengan maksud menyambut kedatangan Erviana.
Satu persatu para jemaat datang, belum juga ada tanda-tanda Erviana muncul, sampai waktu menunjuk jam setengah enam sore.
"Udah yuk An... masuk aja, mungkin dia udah didalam"
Tanpa komentar, Andi langsung ngacir ke dalam gedung gereja, sedangkan aku mengikutinya dari belakang.
"Waduh An... kita kebagian dibelakang nih!!" seruku sambil celingukan kalo-kalo ada tempat yang kosong di bangku tengah, sementara si Andi celingak-celinguk mencari sang pujaan hati yang tak kunjung ketemu.
"Waduh... dimana sih si Ervia.... " bisik Andi di telingaku karena acara sudah dimulai sedangkan dia belum berhasil menemukan sang pujaan hati.
"Gak tahu... aku juga lagi nyari... kamu diem napa... jangan berisik...!!" jawabku
Sore itu Andi benar-benar tidak konsen mengikuti ibadah, matanya lirik kanan-kiri mencari sang belahan jiwanya, sampai acara hampir selesai dai juga belum berhasil menemukannya.
"Kamu sih An.. gak telpon dia dulu, mungkin dia gak datang sore ini" kataku sambil menyenggol bahu Andi.
"Gak mungkin...... aku kenal Ervia... dia paling rajin ke gereja, gak pernah absen sekaliun" sahut Andi sementara pandangannya menelusuri seluruh jemaat yang ada di ruangan itu.
Saat acara selesai, aku dan Andi terheran-heran, kenapa orang -orang ini tidak segera keluar dari ruangan?
"Bu... ada apa sih kok belum pada keluar, kan acara udah selesai..?" tanyaku dengan sedikit berbisik kepada seorang ibu disampingku.
"Lho, mas.. tadi tidak dengar yah.... dan gak baca pengumuman acara di depan? kan ada upacara pernikahan hari ini.." sahut ibu tadi.
"Oooooo " jawabku dengan bibir monyong, sementara si Andi masih tetap saja sibuk tengok kanan dan kiri.
Sejenak kemudian kebaktian pernikahan dimulai, dan setelah beberapa kotbah dari pendeta, tibalah saatnya sang pengantin memasuki ruangan.

"Teng teng tengteng..... teng teng tenteng......" lagu wedding ceremony mengiringi langkah kedua mempelai memasuki ruangan dan berdiri dihadapan sang pendeta yang akan meresmikan pernikahan mereka.
Dan "bla... bla...bla......." upacara pemberkatanpun dimulai oleh sang pendeta sampai pada akhir acara, sang pendeta menanyakan ikrar pernikahan mereka.

"Anthoni setyanto...... bersediakah anda menerima Erviana Aprilia sebagai istri anda yang sah........................................................................................................................................"

sampai disitu bibir si Andi melongo, matanya membelalak seperti hendak keluar dari kelopaknya, begitu juga dengan aku, kaget sekali aku mendengarnya
"Erviana Aprilia.... itu kan Erviananya Andi" gumamku secara tidak sadar.
Sementara itu wajah Andi terlihat begitu tegang, keringat mengucur dari dahinya, tampak dia sedang berusaha keras untuk mengendalikan diri, dan berharap bahwa yang berada di depan mimbar itu bukanlah Erviana Aprilia sang pujaan hatinya.
Pada saat pemberkatan selesai dan kedua mempelai saling berhadapan dan sang mempelai pria membuka cadar mempelai wanita, aku yang tidak ada hubungan apa-apa dengan Erviana seperti tersambar petir di senja hari apalagi si Andi.
Serta merta Andi berdiri sambil mulutnya bergumam "Ervia.............."
Saat itu pula entah mengapa Erviana juga memandang ke arah Andi, dan dia juga tampak sangat terkejut sehingga rangkaian bunga yang digenggamnya terjatuh, dan tampak bibirnya terkatup rapat menahan tangis yang tiba-tiba akan pecah.
Beberapa saat mereka saling pandang tanpa ucap sepatah katapun karena memang tidak ada lagi yang musti diucapkan saat itu, semua telah selesai, semua telah terjawab mengapa Eviana tidak pernah menghubungi Andi akhir-akhir ini.
Setelah beberapa saat saling berpandangan, dengan penuh rasa kecewa, Andi berjalan meninggalkan ruangan gereja, air mata sudah tak kuasa lagi dibendungnya darahnya menggelegak mendidih membakar seluruh jiwa raganya, perasaannya hancur.
Dengan perasaan hancur, Andi duduk di bangku taman gereja, kedua telapak tangannya terkatup rapat dimukanya saat seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun datang menghampirinya
"Mas Andi..... ini dari kak Erviana..." secarik kertas yang dilipat disodorkan kepada Andi, Andi mencoba untuk tegar dan menerima kertas itu dengan senyum yang sangat dipaksakan kepada anak perempuan tadi.
Pelan-pelan kertas itu dibukanya,

"Mas Andiku tersayang, Ervia... mohon maaf yang sebesarnya, akhirnya ervia menyerah pada keputusan papa..... Ervia sudah memberikan beribu alasan kepada papa bahwa Ervia hanya mencintai Mas Andi.... bahkan Ervia yakin kalau Mas Andi akan datang pagi tadi.. untuk meyakinkan Papa bahwa mas Andilah yang Ervia cintai..... dan memang Papa sudah menantang Ervia bahwa Ervia dilarang menghubungi Mas Andi, dan kalau cinta kita benar-benar tulus maka pagi tadi mas Andi akan datang meskipun Ervia tidak pernah telpon atau memberitahu,dan papa berjanji akan mengijinkan Ervia untuk mencintai mas Andi, Ervia selalu berdoa dan berdoa agar perasaan ini tersampaikan, namun ternyata perasaan ini memang tersampaikan tapi tidak tepat persis waktunya, sehingga Mas Andi datang disaat semua sudah terlambat........ maafkan aku Mas Andi"

Ervianamu,

"Aaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhhhhhhhhhh............................!!!!!!!!!"
Aku terkejut sekali saat mendengar andi berteriak keras sekali setelah membaca surat itu dan menghamburkan surat itu ke udara, dan akupun menangkap surat itu dan membacanya.
"Ah Andi.... seandainya kamu menuruti apa yang kusarankan pagi tadi, tentunya keadaannya akan berubah sore ini.... hhhhhhh" gumamku.

**********************************************
"Boy... I miss your kisses all the time but this is...... twenty five minutes too late........"

Twenty five minutesnya Michael Learns to Rock masih mengalun, dan terus mengalun malam itu menemani suasana hati Andi yang sedang kacau balau. Sementara jalanan menuju Jakarta sepertinya juga berduka atas suasana hati si Andi.


Based on True Story in 1998 (dengan adegan yang telah diberi warna disana sini)
Semua nama karakter bukanlah nama yang sesungguhnya.

23 comments:

  1. Wuduh kasian bngt Si Andi, uda gak usa di sesalkan lagi semua uda trjadi. Ini mah bukan twenty five minutes lagi, lebih bahkan... Hehehe... nice story Bro....

    ReplyDelete
  2. duuhhh...bener2 lagunya MLTR deehhh.... 25 minutes too late...

    ReplyDelete
  3. pasti deh pengalaman pribadi ;)

    ReplyDelete
  4. hayooo....pengalaman yahhhh....
    sabar yah buat mas andi..

    ReplyDelete
  5. kayaknya emang kisah nyata nih Bang,....
    btw,... Mbak Fanny dapet saingan nih....

    ReplyDelete
  6. yang biar berlalu...karna hanya hari yg nyata besok masih belum pasti

    ReplyDelete
  7. aku datang menyapa sahabat di malam hari

    ReplyDelete
  8. Bagus juga tulisannya... Banyak belajar dari Mbak Fanny nih kayaknya...

    ReplyDelete
  9. duh kasihan amat temannya. udah bagus kok tulisannya. rajin latihan aja ya.

    ReplyDelete
  10. weleh.. sabar ya Andi,, masih banyak janda-janda tua yang harus di santuni... hihihi!

    ReplyDelete
  11. Nampang lagi disini setelah lama hiatus nih. Weh,based from true story ya mas?

    ReplyDelete
  12. numpang singgah nih sobat apa kabar

    ReplyDelete
  13. Mas, ada award tuh. Diambil ditempatku sekarang ya? Thanks... :)

    ReplyDelete
  14. ahh..bagian lagu "when i need you..." itu loh..
    jadi inget..

    ReplyDelete
  15. Komen perdana gak tau mau komen apa..

    halah...

    ReplyDelete
  16. so sad.. kasian temennya... wah dalem juga ceritanya

    ReplyDelete
  17. Tragis banget ... bisa di bikin novel tuh...

    ReplyDelete
  18. mau komen...iya ini komennya

    ReplyDelete
  19. hiks hiks, dakuw minder nich. aku belum tentu bisa nulis sepanjang itu, kebanyakan menotk ditengah jalan ... T.T

    ReplyDelete
  20. Ini kisah nyata yah mas? wah bisa nulis cerpen juga ternyata. :)

    Maaf, lama baru singgah

    ReplyDelete

Monggo... silahkan mengkomentari si Tukang Komen disini, mau banyolan, kritikan, saran atau apapun juga.
Matur Nuwun...